is loading ...................................


Jumat, 15 Oktober 2010

WASPADA KANKER SERVIKS !!

heiyooooo para wanita,,,

yuuuk yang ngrasa sebagai wanita, atau para suami yang memiliki istri CHECK THIS OUT !!

Jaman sekarang tentu bisa dikatakan jaman modern, yang semua serba canggih dan apakah kita tak menyadari bahwa itu semua telah mengubah gaya hidup kita menjadi lebih instan juga. Padahal gaya hidup yang serba instan tidak baik bukan terhadap kesehatan kita?

Dan yang booming sekarang ini adalah kanker ,
wanita ternyata menjadi sarang kanker ya?
bukan hal asing lagi ketika mendengar kata kanker serviks, ya penyakit itu adalah peringkat pertama untuk kategori kanker yang menyerang wanita
taukah kalian apa itu Ca Serviks?
adalah kanker yang menyerang bagian serviks (mulut rahim). Kanker atau karsinoma sendiri merupakan istilah medis
yang biasanya digunakan untuk menyebut suatu massa/tumor/ benjolan yang memiliki sifat ganas. Massa/tumor ini
merupakan penyakit pertumbuhan sel dalam tubuh dimana bentuknya, sifat dan juga kinetikanya berbeda dengan sel
normal tubuh lainnya

Penyebab kanker itu sendiri selain karena kelainan tubuh sendiri juga karena buatan manusia seperti bahan industri seperti cat, petrokimia, karet, obat-obatan seperti arsen, chlornaphazine.
DAN YANG PENTING JUGA karena asam rokok juga dapat menyebabkan kanker karena didalamnya terdapat banyak karsinogen seperti polycyclic
aromatichydrocarbon dan aromatic amine

wajib juga kalian tau virus yang menyebabkan penyakit ini adalah Penyebab dari Ca Serviks diduga terkait dengan adanya virus HPV (human papilomma virus) terutama varian 16 dan 18
dan infeksi dari virus herpes simpleks varian 2.

Nah, sekarang kita bahas siapa saja yang bisa terkena Ca Serviks????
1. Gadis yang melakukan coitus saat usianya kurang dari 17 tahun. Tuh kan, makanya kalian para remaja yang masih rawan-rawannya, jaga ateuh diri baik-baik. Tidak ada yang melarang kalian pacaran tapi jangan sampai kalian berhubungan seks di luar nikah, Nasihat juga buat kalian "jangan mau kalau disuruh cowok kalian nurutin begituan, soalnya kalian para cewek lah yang menderita, tidak cuma di dunia tapi di akhirat ... So, hati-hati aja
2. Wanita dengan riwayat paritas (persalinan) yang tinggi/banyak (umumnya lebih dari 5 kali melahirkan) apalagi dengan
jarak persalinan yang terlampau dekat (kurang dari 2 tahun). Nah ini dia, bagi ibu-ibu sebaiknya memperhitungkan jumlah anak dalam kelahirannya, karena kasihan rahimnya juga bila digunakan terus menerus, dan gunakan prinsip ini "jangan ada 2 balita dalam satu rumah"
3. Wanita yang sering berganti-ganti pasangan seksual (promiskuitas). Apalagi masalah ini ya? tenar banget jaman sekarang, makanya usahakan cari pasangan satu untuk selamanya.
4. Hygine seksual yang jelek (tidak menjaga kebersihan alat genital). makanya penting jaga kebersihan alat genital, caranya mudah, kalian nggak usah pake antiseptik karena sesungguhnya itu justru akan membunuh flora baik di daerah kewanitaan kita, cukup pake handuk hangat yang bersih tentunya. kemudian jaga kelembabannya/
5. Wanita yang mengalami infeksi virus Humman Papiloma Virus
6.Wanita yang merokok. dilihat dari segi etika juga sangat tidak etis jika seorang wanita merokok, maka jadilah wanita baik-baik yang memiliki manure yang baik

Tanda dan gejala Ca Serviks
Apa Tanda dan Gejalanya?
1. Kontak bleeding yakni perdarahan pasca senggama. Hal ini biasanya merupakan tanda umum yang sering dijumpai.
Perdarahan yang terjadi dikarenakan kerapuhan dari jaringan serviks. Saat coitus, umumnya akan terjadi gesekan pada
dinding serviks. Karena jaringan yang kaya pembuluh darah tersebut sangat rapuh, maka perdarahan mudah terjadi.
2. Keputihan juga merupakan gejala yang sering ditemukan. Keputihan ini lama kelamaan akan berbau busuk oleh
kaena adanya proses infeksi dan nekrosis (kematian) jaringan akibat kanker tersebut.
3. Rasa nyeri yang hebat divagina dan sekitarnya atau pada perut bagian bawah.
4. Anemia (karena perarahan hebat pada vagina)
5. Gejala yang timbul akibat adanya metastasis/penyebaran ke organ-organ lainnya misalnya,
- paru : batuk lama, efusi pleura, pneumonitis
- hati : ikterus (warna kuning pada tubuh), hepatomegali (pembesaran hati), acites (cairan pada rongga perut)
- otak : koma, kehilangan penglihatan.
- tulang : nyeri tulang, paah tulang

Inget PATOKAN !!!!
P : Perdarahan atau keluar lendir yang tak wajar dari dalam tubuh yakni berupa,
- batuk darah : ca paru dan sal.nafas
- muntah darah : ca lambung atau hati
- BAB darah : ca rectum/anus atau kolon/usus
- perdarahan vagina : ca serviks)
A : Alat pencernaan terganggu atau ada kesukaran menelan yang semakin lama semakin berat (ca eosofagus, tyroid)
T : Tumor pada payudara atau di tempat lain (testis, usus, otot, dll)
O : Obstipasi/ sembelit atau perubahan kebiasaan BAB atau BAK
K : Koreng atau borok yang tidak mau sembuh (gejal utama kanker kulit stadium lanjut) dimana biasanya tanda yang
paling khas adalah perdarahan terus menerus dari borok tersebut.
A : Andeng-andeng (nevus) yang berubah , membesar dan makin menghitam (ditambah rasa gatal, borok, berdarah,
rambut yang semual ada menjadi rontok) ini mengacu pada ca kulit.
N : Nada suara jadi serak atau batuk yang tak kunjung sembuh.

Bagimana Memastikan itu Ca Serviks?
Diagnosis dapat ditegakan dengan gejala dan tanda yang dikeluhkan, namum diagnosis pasti ca serviks ditegakan
melalui pemeriksaan sitologi (pemeriksaan sel) dengan cara biopsi (mengambil sebagian jaringan pada serviks ). Dari
biopsy tersbut akan terlihat dengan jelas sel-sel kanker tersebut.
Bagaimana Penangannya?
Penanganan kasus kanker pada umumnya dibedakan berdasarkan stadiumnya. Pada stadium dini masih dapat
Sobat Muda
http://sobat-muda.com Powered by Joomla! Generated: 15 October, 2010, 15:00
dilakukan dengan pembedahan. Setelah pembedahan dilnjutkan dengan radioterapi (penyinaran). Pada stadium lanjut,
umumnya tidak dilakukan pemebdahan. Namun dengan kemoterapi (obat-obatan ) dan juga radioterapi. Pada stadium
IV (IVa dan IVb) umumnya pengobatan yang diberikan hanyalah bersifat paliatif/meringkan keluhan bukan untuk
menyembuhkan. Hal ini dikarenakan penyebaran sel kanker yang sudah sistemik/menyeluruh. Sehingga radioterapilah
pengobatn akhir dari pasien dengan stadium ini.
Bagimana Prognosis Kesembuhannya?
Prognosis (gambaran kedepan/harapan) kesembuhan dari ca serviks ditentukan pula oleh berbagi faktor yakni,
- umur penderita
- keadaan umum penderita (termasuk status gizinya)
- tingkat keganasan/ stadium
- cirri histologik sel kankernya
- kemampuan ahli dalam menangani
- sarana pengobatn yang ada.
Pada ca serviks stadium IV prognosis umumnya et malam atau buruk.
Adakah Cara Deteksi Dini Ca Serviks?
Deteksi dini ialah usaha untuk menemukan adanya kanker yang masih dapat disembuhkan (stadium dini). Deteksi dini
terhadap ca serviks dapat dilakukan oleh para wanita dengan pemeriksaan screenin test yakni dengan cara yang
mungkin sudah cukup familiar : PAP SMEAR atau dengan metode yang paling baru, yakni metode IFA.
Siapa yang Seharusnya Melakukan Screening?
Screening test hendaknya dilakukan oleh para wanita yang sudah aktif melakukan hubungan seksual juga bagi para
wanita yang memiliki faktor risiko/predesposisi seperti yang tercantum di atas. Screening bisa dilakukan pada Rumah
sakit melalui dokter special kandungan ataupun tempat-tempat sarana kesehatan spereti laboratorium yang tersedia
layanana screening didalamnya.
Mencegah Lebih Baik Bukan?
Siapapun pasti setuju dengan pernyataan “mencegah penyakit itu lebih baik daripada mengobati”. Hal ini
pulalah yang sedapatnya kita lakukan sebagi uapaya penecegahan awal terhadap ca serviks. Bagaimana caranya? Bagi
anda yang telah menikah, membersihkan daerah kewanitaan dan menjaganya supaya tetap hygine adalah hal yang
penting. Kebersihan alat genital pasangan anda juga harus diperhatikan pula (maka benarlah perintah baginda
Rasululloh, dimana dalam jima’ satu dengan jima’ lainnya itu diperantai oleh wudlu_ dan hendaknya
membersihkan pula kemaluannya). Karena sangat memungkinkan kuman penyakit tersebut ada dalam alat genital yang
kurang bersih. Tetaplah setia dengan pasangan anda (jangan perganti-ganti pasangan!).

Say NO to CancerY
katakan tidak pada kanker!! Bagimana caranya? Tentu dengan menjaga life style kita. Bagimanapun juga
makanan 4 sehat 5 sempurna jauh lebih sehat dan bermanfaat bagi tubuh kita, dibandingkan makanan junk food
ataupun makanan serba instant yang didalamnya banyak terdapat bahan kimia dan pengawet. Hindari rokok!!
Khususnya bagi anda kaum pria (dan mungkin kaum wanita) karena sungguh didalam rokok terdapat puluhan bahan
berbahaya bagi tubuh kita!! No free sex!! Yang ini pasti dan harus benar2 didelete apalagi dengan berganti-ganti
pasangan! Setialah anda pada pasangan anda…..
Demikian uraian singkat mengenai ca serviks. Semoga informasi yang sedikit ini dapat bermanfaat dan dapat
menambah pengetahuan kita (kaum wanita khususnya) mengenai berbagai hal yang terkait dengan kesehatannya
(terutama kesehatan alat reproduksinya).

pustaka
http://sobat-muda.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=118












Jumat, 08 Oktober 2010

ketika WhYuu = Kuattt = hebattt = ituu AKU


sungguh pengalaman hidup ini membuatku kuat,,tak ada yang lebih indah selain bersyukur dalam berbagai keadaan. Alloh membuatkan rencana indah itu untukku, walau kadang tak terasa hati ini luluh berkeping-keping, tapi selalu yakin bahwa akan ada keindahan dibalik semua
ijinkan aku bersajak untuk segala rasa yang ada,

nyanyian hati ...
melingkupi jiwa yang rapuh
yang kadang mencoba berdiri
dan tak mampu tuk tegak
yang kadang ingin tersenyum
dan tak mampu tuk tertawa

tak satu pun rasa benci
karna rasa ini akan selalu ada
menyirami raga yang gersang

ku kirim sajak kecil ini
sebagai rasa yang tak pernah mati
walau lenyap termakan waktu

kini saat yang aku takutkan
ketika lelah menghampiri
dan semua bayangan menghilang

AKU AKAN BERDIRI TEGAK
AKU AKAN TERSENYUM DAN TERTAWA
KARENA KU SANGGUP WALAU KU TAK MAU

. . . . . .

IMUNISASI,,,,CEKIDOTTTT

TUGAS MATA KULIAH ASUHAN NEONATUS, BAYI, DAN BALITA
“ IMUNISASI”

Disusun oleh :
Hari Wahyu Indriyani ( P.174.24.209.029 )




POLTEKKES KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
PRODI DIII KEBIDANAN MAGELANG
2009/2010 


A. Pengertian
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada ajanin yang diperoleh dari ibu, atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan immunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG misalnya adalah 28 hari, sedangkan waktu paruh immunoglobulin lainnya lebih pendek. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti biasanya berlangsung lebih lama karena adanya memori imunologik.
B. Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar. Keadaan yang terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang transmisinya tergantung pada manusia. Seperti misalnya penyakit difteri. Agar lebih mudah mengerti mengenai proses imunologik yang terjadi pada vaksinasi maka terlebih dahulu perlu diketahui tentang respons imun dan mekanisme pertahanan tubuh.
C. Keberhasilan Imunisasi
Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa factor, yaitu status imun pejamu, factor genetic pejamu, serta kualitas dan kuantitas vaksin.
D. Persyaratan Vaksin
Terdapat 4 faktor sebagai persyaratan vaksin, yaitu
1. Mengaktivasi APC untuk mempresentasikan antigen dan memproduksi interleukin.
2. Mengaktivasi sel T dan sel B untuk membentuk banyak sel memori
3. Mengaktivasi sel T dan sel Tc terhadap beberapa epitop, untuk mengatasi variasi respons imun yang ada dalam populasi karena adanya polimorfisme MHC
4. Memberi antigen yang persisten, mungkin dalam sel folikular dendrite dengan limfoid tempat sel B memori direkrut sehingga dapat merangsang sel B sewaktu-waktu menjadi sel plasma yang membentuk antibody terus menerus sehingga kadarnya tetap tinggi.
E. Jenis vaksin
1. Live attenuated (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan)
Diproduksi dengan cara melakukan modifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit di laboratorium. Mikroorganisme vaksin yang dihasilkan masih memiliki kemampuan untuk tumbuh dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak menyebabkan penyakit.
2. Inactivated (bakteri, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif)
Dapat terdiri dari atas seluruh tubuh virus atau bakteri, atau fraksi (komponen) dari kedua organisme tersebut. Vaksin fraksi dapat berbasis protein atau polisakarida. Vaksin yang berbasis protein termasuk toksoid dan produk sub-unit atau sub-virion. Sebagian besar vaksin polisakarida terdiri atas dinding sel polisakarida asli bakteri
F. Tata cara pemberian imunisasi
 Memberikan secara rinci tentang risiko vaksinasi dan apabila tidak diimunisasi
 Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapakan
 Baca dengan teliti informasi tentang produk yang akan diberikan jangan lupa mengenai persetujuan yang telah diberikan kepada orang tua
 Melakukan Tanya jawab dengan orang tua atau pengasuhnya sebelum melakukan imunisasi
 Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra terhadap vaksin yang akan diberikan.
 Periksa identitas penerima vaksin dan berikan antipiretik bila diperlukan
 Periksa jenis vaksin dan yakin bahwa vaksin tersebut telah disimpan dengan baik
 Periksa vaksin yang akan diberikan apakah Nampak tanda-tanda perubahan, periksa tanggal kadaluarsa dan catat hal-hal istimewa, misalnya perubahan warna menunjukkan adanya kerusakan
 Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal bila diperlukan
 Berikan vaksin dengan teknik yang benar.
Setelah pemberian vaksin, hal-hal yang harus dikerjakan :
1. Berilah petunjuk kepada orang tua atau pengasuh apa yang harus dikerjakan dalam kejadian reaksi yang biasa atau reaksi ikutan yang lebih berat.
2. Catat imunisasi dalam rekam medis pribadi dan dalam catatan klinis
3. Catatan imunisasi secara rinci harus disampaikan kepaada Dinas Kesehatan bidang Pemberantasan Penyakit Menular
4. Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi untuk mengejar ketinggalan, bila diperlukan.
G. Penyimpanan
Vaksin yang disimpan dan diangkut secara tidak benar akan kehilangan potensinya. Instruksi pada lembar penyuluhan informasi produk harus disertakan. Aturan umum untuk sebagian besar vaksin, bahwa vaksin harus didinginkan pada temperatur 2-8C dan tidak membeku. Sejumlah vaksin (DPT, Hib, hepatitis B, dan hepatitis A) akan tidak aktif bila beku. Pengguna dinasehatkan untuk mengeluarkan untuk melakukan konsultasi guna mendapatkan informasi khusus tentang masing-masing vaksin, karena beberapa vaksin (OPV dan vaksin Yellow Fever) dapat disimpan dalam keadaan beku.
H. Pengenceran
Vaksin kering yang beku harus diencerkan dengan cairan pelarut khusus dan digunakan dalam periode waktu tertentu. Apabila vaksin telah diencerkan, harus diperiksa terhadap tanda-tanda kerusakan. Perlu diperhatikan bahwa vaksin campak yang telah diencerkan cepat mengalami perubahan warna pada suhu kamar. Jarum ukuran 21 yang steril dianjurkan untuk mengencerkan dan jarum ukuran 23 dengan panjang 25 mm digunakan untuk menyuntikkan vaksin.
I. Pembersihan kulit
Tempat suntikan harus dibersihkan sebelum imunisasi dilakukan, namun apabila kulit telah bersih antiseptic kulit tidak diperlukan.
J. Pemberian suntikan
Sebagian besar vaksin diberikan melaui suntikan intramuscular atau subkutan dalam. Terdapat perkecualian pada dua jenis vaksin yaitu OPV diberikan per-oral dan BCG diberikan dengan suntikan intramedal (dalam kulit). Walaupun vaksin sebagian besar diberikan secara suntikan intramuscular atau subkutan dalam, namun bagi petugas kesehatan yang kurang berpengalaman memberikan suntikan subkutan dalam diajurkan memberikan dengan cara intramuscular.
K. Teknik dasar dan ukuran jarum
Pada petugas yang melaksakan vaksinasi harus memahami teknik dasar dan petunjukmkeamanan pemberian vaksin, untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi dan trauma akibat suntikan yang salah. Pada tiap suntikan harus digunakan semprit dan jarum baru, sekali pakai dan steril. Sebaiknya tidak digunakan botol vaksin yang multidosis, karena risiko infeksi. Apabila memakai botol multidosis maka semprit yang atau jarum suntik yang telah digunakan menyuntik tidak boleh dipakai lagi untuk mengambil vaksin. Semprit dan jarum harus dibuang dalam tempat tertutup yang diberi tanda tidak mudah robek dan bocor, untuk menghindari luka tusukan atau pemakaian ulang. Tempat pembuangan jarum suntik bekas jarumharus dijauhkan dari jangkauan anak. Diharapkan semua petugas kesehatan memahami benar petunjuk ini.
Sebagian besar vaksin harus disuntikkan ke dalam otot. Penggunaan jarum yang pendek meningkatkan risiko terjadi suntikan subkutan yang kurang dalam. Hal ini menjadi masalah untuk vaksin-vaksin yang inaktif.
Standar jarum suntik ialah ukuran dengan panjang 25 mm, tetapi ada perkecualian lain dalam beberapa hal seperti berikut :
 Pada bayi kurang umur dua bulan atau yang lebih muda, dan bayi-bayi kecil lainnya, dapat pula dipakai jarum ukuran 26 dengan panjang 16 mm.
 Untuk suntikan subkutan pada lengan atas dipakai jarum ukuran 25 dengan panjang 16 mm, untuk bayi-bayi kecil dipakai jarum ukuran 27 dengan panjang 12 mm
 Untuk suntikan intramuscular pada orang dewasa yang sangat gemuk dipakai jarum 23 dengan panjang 38 mm
 Untuk suntikan intramedal pada vaksinasi BCG dipakai jarum ukuran 25-27 dengan panjang 10 mm
L. Arah sudut jarum pada suntikan intramuscular
Jarum suntik harus disuntikkan dengan sudut 45 sampai 60 ke dalam otot vastus lateralis atau otot deltoid. Untuk suntikan otot vastus lateralis, jarum diarahkan ke arah lutut sedangkan untuk suntikan pada deltoid jarum diarahkan ke pundak. Kerusakan saraf dan pembuluh vascular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan pada sudut 90. Pada suntikan dengan sudut jarum 45 sampai 60 akan mengalami hmbatan ringan pada waktu jarum masuk ke dalam otot.
Tempat suntikan yang dianjurkan
Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada bayi-bayi dan anak-anak umur di bawah 12 bulan. Regio deltoid adalah alternative untuk vaksinasi pada anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa.
Sejak akhir tahun 1980, WHO telah memberi rekomendasi bahwa daerah anterolateral paha adalah bagian yang dianjurkan untuk vaksinasi bayi-bayi dan tidak pada pantat untuk menghindari risiko kerusakan saraf scias. Buku pedoman ACIP dan AAP serta buku pedoman Selandia Baru juga menganjurkan paha anterolateral sebagai tempat suntikan vaksin. Buku pedoman Inggris menganjurkan paha anterolateral atau lengan atas pada bayi sebagai tempat suntikan.
Risiko kerusakan saraf iskhiadika akibat suntikan di daerah gluteus lebih banyak dijumpai pada bayi karena variasi posisi saraf tersebut, massa otot lebih tebal sehingga pada vaksinasi dengan suntikan intramuscular di daerah gluteal dengan tidak disengaja menghasilkan suntikan subkutan dengan reaksi local yang lebih berat. Vaksin hepatitis B dan rabies bila disuntikkan di daerah gluteal kurang imunogenik. Hal ini berlaku untuk semua umur
Posisi anak dan lokasi suntikan
Vaksin yang disuntikkan harus diberikan pada bagian dengan risiko paling kecil terhadap kerusakan saraf, pembuluh vascular serta jaringan lainnya. Penting bahwa bayi dan anak jangan bergerak saat disuntik, walaupun demikian cara memegang bayi dan anak yang berlebihan akan menambah ketakutan sehingga menigkatkan ketagangan otot. Perlu diyakinkan kepada orang tua atau pengasuh untuk membantu memegang anak atau bayi, dan harus diberitahu agar mereka memahami apa yang sedang dikerjakan.
Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur di bawah 12 bulan adalah :
- Menghindari risiko kerusakan saraf ishiadika pada suntikan daerah gluteal
- Daerah deltoid pada bayi dianggapo tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan secara adekuat.
- Immunogenisitas vaksin hepatitis B dan rabies akan berkurang apabila disuntikkan di daerah gluteal.
- Menghindari risiko reaksi local dan terbentuknya nodulus di tempat suntikan yang menahun.
- Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.
M. Pengambilan vaksin dari botol
Untuk vaksin yang diambil menembus tutup karet atau yang dilarutkan, harus memakai jarum baru. Apabila vaksin telah diambil dari vial yang terbuka, dapat dipakai jarum yang sama. Jarum atau semprit yang telah digunakan menyuntik seseorang tidak boleh digunakan untuk mengambil vaksin dari botol vaksin karena risiko nontaminasi silang, vaksin dalam botol yang berisi dosis ganda jangan digunakan kecuali tidak ada alternative lain.
N. Pemberian dua atau lebih vaksin pada hari yang sama
Pemberian vaksin-vaksin yang berbeda sesuai umur, pada hari yang sama telah dianjurkan. Vaksin inactivated dan vaksin virus hidup, khususnya mereka yang telah terjadwal, dapat diberikan pada lokasi yang berbeda saat kunjungan hari itu. Misalnya pada kesempatan yang sama dapat diberikan vaksin-vaksin DPT, Hib, hepatitis B dan Polio.’
Lebih dari satu macam vaksin virus hidup dapat diberikan pada hari yang sama, tetapi apabila hanya satu yang diberikan, vaksin virus hidup yang kedua tidak boleh diberikan dlaam waktu 4 minggu dari vaksin yang pertama, sebab respons vaksin yang kedua mungkin telah banyak berkurang.

REAKSI Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
 Hilang dalam 1-2 hari
 Kemerahan
 Pembengkakan Kompres Hangat
 Gatal
 Nyeri 1-2 hari
 BCG : 2-6 minggu post imunisasi BCG papula (bisul) kecil dan terjadi ulserasi slm 2-4 bl, timbul jaringan parut. Bila ada cairan kompres antiseptic.
 Hepatitis B : demam, kemerahan, bengkak,nyeri t4 suntikan,mual,nyeri sendi
Banyak minum (ASI, Air buah), pakaian tipis, kompres, parasetamol 15mg/kgb tiap 3-4 jam
 DPT : demam tinggi, rewel, kemerahan, nyeri dan bengkak.
Penanggulangan:seperti hepatitis B.
 Campak dan MMR : tidak nyaman, demam, erupsi kulit halus, pembengkakan getah bening belakang telinga. Penanggulangan seperti hepatitis B.

VAKSIN PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI ( VAKSIN PPI )
A. Hepatitis B
Pada dasarnya individu yang belum pernah imunisasi hepatitis B atau yang tidak memiliki antibody anti-HBs, potensial terinfeksi VHB. Risiko kronisitas dipengaruhi oleh factor usia saat yang bersangkutan terinfeksi. Kronisitas dialami oleh 90% bayi yang terinfeksi saat lahir 25-50% anak yang terinfeksi usia 1-5 tahun, dan 1-5% anak besar dan orang dewasa. Infeksi VHB juga umumnya akan menjadi kronis bila mengenai pada individu dengan defisiensi imun, baik congenital maupun didapat (infeksi HIV, terapi imunosupresi, hemodialisis)
Penularan
1.Inokukasi Parenteral:alat kedokteran,darah atau jaringan
2.Hubungan seks.
3.Ibu ke bayi:proses kelahiran,transplasenta,post natal melalui asi
Pemberian vaksin sedini mungkin setelah lahir.33% ibu bersalin negara berkembang yang menderita HIV(+) akan menularkan pada bayi sebesar 40%.
Sasaran vaksinasi hepatitis B
1. Semua bayi baru lahir tanpa memandang status VHB ibu
2. Individu yang karena pekerjaannya berisiko tertular VHB
3. Karyawan di lembaga perawatan cacat mental
4. Pasien hemodialisis
5. Pasien koagulopati yang membutuhkan transfuse berulang
6. Individu yang srumah dengan pengidap VHB atau kontak akibat hubungan seksual.
7. Drug user
8. Homosexual, bisexual, heterosexual
Jadwal dan dosis
Pada dasarnya jadwal imunisasi hepatitis B sangat fleksibel sehingga tersedia berbagai pilihan untuk menyatukannya ke dalam program imunisasi terpadu. Beberapa hal yang perlu diingat.
• Minimal diberikan sebanyak 3 kali
• Imunisasi pertama diberikan segera setelah lahir
• Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah 0,1 dan 0,6 bulan karena respons antibodinya paling optimal.
• Interval antara dosis pertama dan dosis kedua minimal 1 bulan. Memperpanjang interval antara dosis kesatu dan kedua tidak akan mempengaruhi immunogenitas atau titer anti body sesudah imunisasi selesai (dosis ketiga).
• Dosis ketiga merupakan penentu respon antibody karena merupakan dosis booster. Agar dapat dicapai kadar antibody protektif secepatnya dianjurkan hepB-3 diberikan lebih awal (umur 3-6 bulan), mengingat Indonesia adalah daerah endemisitas tinggi.
• Bila sesudah dosis pertama imunisasi terputus, segera beri imunisasi kedua. Sedangkan imunisasi kedua diberikan dengan jarak terpendek 2 bulan.
• Bila dosis ketiga terlambat, beri segera setelah memungkinkan.
• Tiap vaksin hepatitis B sudah dievaluasi untuk menentukan dosis sesuai umur (age-spesific dose) yang dapat menimbulkan responh antibody yang optimum. Oleh karena itu dosis yang direkombinasikan bervariasi tergantung produk dan usia resipien. Sedangkan dosis pada bayi dipengaruhi pula oleh status HBsAg ibu.\
• Pasien hemodialisis membutuhkan dosis yang lebih besar atau penambahan jumlah suntikan.
• Pada pasien koagulopati penyuntikan segera setelah memperoleh terapi factor koagulasi, dengan jarum kecil (nomor 23) tempat penyuntikan ditekan minimal 2 menit.
• Bayi premature : bila ibu HBsAg (-) imunisasi ditunda sampai bayi berusia 2 bulan atau berat badan sudah mencapai 2000 gram.
Imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir
HBsAg ibu Imunisasi Keterangan
Positif
Negatif
Atau tidak
Diketahui HBsAg (0,5 ml) dan vaksin

Vaksin Dosis I diberikan <12jam>5 mn
2. HIV atau Resti : imunocompromais, kortikosteroid, pengobatan radiasi
3. Gizi buruk
4. Demam tinggi
5. Infeksi kulit yang luas
6. Pernah sakit TBC
7. Hamil
Berikan imunisasi hepatitis
Rekomendasi
• BCG diberikan pada bayi 2 bulan
• Pada bayi yang kontak erat dengan penderita TB dengan BTA (+3) sebaiknya diberikan INH profilaksis dulu, kalau kontaknya sudah tenang dapat diberi BCG
• BCG jangan diberikan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi, misalnya HIV, gizi buruk dan lain-lain

C. POLIOMIELITIS
Vaksin Virus Polio Oral (Oral polio vaccine = OPV)
• Vaksin virus polio hidup oral yang dibuat oleh PT. Biofarma Bandung berisi virus polio tipe 1,2,3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan. Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Tiap dosis (2 tetes = 0,1 ml) mengandung virus tipe 1 : 106.0 CCID50, tipe 2 : 105.0 CCID50 dan tipe 3 : 105.5 CCID50 dan eritromisin tidak lebih dari 2 mcg, serta kanamisin tidak lebih dari 10mg
• Vaksin digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral. Virus vaksin ini kemudian menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibody baik dalam darah maupun pada epithelium usus, yang menghasilkan pertahanan local terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian. Dengan cara ini maka frekuensi ekskresi polio virus liar dalam masyarakat dapat dikurangi.
• Vaksin akan menghambat infeksi virus polio liar yang serentak, maka sangat berbahaya untuk mengendalikan epidemi. Jenis vaksin virus polio ini dapat bertahan di tinja sampai 6 minggu setelah pemberian OPV.
• Penerima vaksin dapat terlindungi setelah dosis tunggal pertama namun tiga dosis berikutnya akan memberikan imunitas jangka lama terhadap 3 tipe virus polio.
• Vaksin polio oral harus disimpan beku pada temperature 20C. Vaksin yang beku dengan cepat dicairkan dengan cara ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai oranye muda (sebagai indicator pH)
• Bila keadaan trsebut dapat terpenuhi, maka sisa vaksin yang telah terpakai dapat dibekukan lagi, kemudian dipakai lagi sampai warna berubah dengan catatan dan tanggal kadaluarsa harus selalu diperhatikan.
Vaksin Polio Inactivated (IPV)
• Vaksin polio inactivated yang dibuat oleh Aventis Pasteur berisi tipe 1,2,3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid
• Vaksin polio inactivated harus disimpan pada suhu 2-8C dan tidak boleh dibekukan.
• Pemberian dengan dosis 0,5 ml dengan suntikan subkutan dalam tiga kali berturut-turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan imunitas jangka panjang terhadap 3 macam tipe virus polio.
• Imunitas mucosal yang ditimbulkan oleh IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh OPV.
Rekomendasi
1. Imunisasi Primer pada Bayi
Vaksin polio oral diberikan pada bayi baru lahir dengan dosis awal, sesuai dengan PPI dan ERAPO tahun 2
2. Vaksinasi terhadap orang tua yang anaknya divaksinasi
Imunisasi penguat ( Booster ) : dosis penguat OPV harus diberikan sebelum masuk sekolah, yaitu bersamaan pada saat diberikan dosis DPT sebagai penguat. Dosis OPV berikutnya harus diberikan pada umur 15-19 tahun atau sebelum meninggalkan sekoilah.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
Kasus poliomyelitis yang berkaitan dengan vaksin telah dilaporkan terjadi pada resipien atau kontak. Diperkirakan terdapat 1 kasus poliomyelitis paralitik yang berkaitan dengan vaksin pada setiap 2,5 juta dosis OPV yang diberikan. Risiko terjadi paling sering pada pemberian dosis pertama dibanding dengan dosis selanjutnya. Risiko yang relative kecil yang ditimbulkan pada pemberian OPV ini tidak boleh diremehkan, namun tidak cukup menjadi alasan untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan imunisasi, karena vaksinasi polio terbukti sangat berguna. Harus ditekankan bahwa kebersihan terhadap kontak penerima vaksin yang baru adlah sangat penting.
Setelah vaksinasi sebagian kecil resipien dapat mengalami gejala pusing2 , diare ringan, dan sakit pada otot. Seperti KIPI yang lain, semua gejala yang timbul setelah vaksinasi harus dilaporkan ke Dinkes setempat.
D. VAKSIN DPT
Toksoid difteri
Antitoksin difteri digunakan sebagai pengobatan dan efektifitasnya sebagai pencegahan. Untuk imunisasi rutin pada anak dianjurkan pemberian 5 dosis pada usia 2,4,6,15-18 bulan dan saat masuk sekolah. Dosis ke-4 harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ke-3.
Kejadian ikutan pasca imunisasi
Kejadian ikutan pasca imunisasi toksoid difteri secara khusus sulit dibuktikan karena selama ini pemberiannya selalu digabung bersama toksoid tetanus dan atau tanpa vaksin pertusis.

E. CAMPAK
Patogenesis
Virus masuk melalui saluran pernafasan secara droplet dan selanjutnya masuk kelenjar getah bening yang berada di bawah mukosa, virus akan memperbanyak diri kemudian menyebar ke sel-sel jaringan limforetikular seperti limpa. Sel mononuclear yang terinfeksi membentuk sel berinti raksasa disebut sel Wathin, sedangkan sel T limfosit meliputi klas penekan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Padda saat 5-6 hari sesudah infeksi awal, focus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembulh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran pernafasan, kulit, kandung seni, saluran usus dan selanjutnya pada hari ke 9-10 fokus infeksi berada di epitel saluran napas. Pada saat itu muncul gejala coriza (pilek) disertai dengan peradangan selaput konjungtiva yang tampak merah. Pasien tampak lemah disertai suhu tubuh yang meningkat, selanjutnya pasien tampak sakit berat sampai munculnya ruam kulit. Pada hari ke-2 tampak pada mukosa pipi suatu ulcera kecil merupakan tempat virus tumbuh selanjutnya mati dan kelainan ini merupakan tanda patognomonik untuk menegakkan diagnosis. Akhirnya muncul ruam makulopapular di hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi dan selanjutnya suhu tubuh menurun.
Vaksin
Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonston B).
Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam alumunium)
Dosis dan Cara Pemberian
1. Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah sebanyak 0,5ml.
2. Untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID.
3. Pemberian yang dianjurkan secara subkutan, walaupun demikian dapat diberikan secara intramuscular.
4. Daya proteksi vaksin campak diukur dengan berbagai macam cara. Salah satu indicator pengaruh vaksin terhadap proteksi adalah penurunan angka kejadian kasus campak sesudah pelaksanaan program imunisasi.
5. Pada negara berkembang WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan. Pada Negara maju imunisasi campak dianjurkan pada anak berumur 12-15 bulan.
Reaksi KIPI
1. Reaksi KIPI imunisasi campak yang banyak dijmpai terjadi pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vajsin campak dari virus yang dimatikan. Kejadian KIPI imunisasi campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan.
2. Gejala KIPI dengan demam yang lebih dari 39,5ÂșC yang terjadi pada 5-15% kasus, demam mulai dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunsasi dan berlangsung selama 2 hari.
3. Berbeda dengan infeksi alami demam tidak tinggi, walaupun demikian peningkatan suhu tubuh tersebut dapat merangsang terjadinya kejang demam.
4. Ruam dapat dijumpai pada 5% resipien, timbul pada hari ke 7-10 sesudaah imunisasi dan berlangsung selama 2-4 hari. Hal ini sukar dibedakan dengan modified measlesakibat imunisasi yang terjadi jika seseorang telah memperoleh imunisasi pada saat masa inkubasi penyakit alami.
5. Reaksi KIPI berat jika ditemukan gangguan fungsi system saraf pusat seperti ensefalitis dan ensefalopati pasca imunisasi sebanyak 1 diantara 1 milyar dosis vaksin.
Indikasi Kontra
Indikassi kontra imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita demam tinggi, sedang memperoleh pengobatan imunosupresi,hamil,memiliki riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan immunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah.

VAKSINASI NON-PPI
A. Campak
Campak,measles atau rubeola adalah penyakit virus yang akut yang disebabkan oleh virus campak. Penyebaran infeksi terjadi secara droplet, dengan masa inkubasi 10 hari. Gejalanya awal ditandai dengan ruam, kemudian setelah berlangsung 2-4 hari yang ditandai dengan demam yang disertai batuk, pilek. Ruam campak adalah berupa erupsi makulo-papular yang biasanya bertahan selama 5-6 hari, yang dimulai dari batas rambut belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah dan leher. Setelah 3 hari ruam ini berangsur-angsur akan turun kebawah dan akhirnya akan sampai di tangan dan kaki.
Gondongan (Mumps)
Gondongan disebabkan oleh infeksi paramyxovirus dan penyebarannya terjadi melalui droplet. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dengan insidens puncak pada usia 5-9 tahun. Masa inkubasi 12-25 hari, gejala prodromal tidak spesifik ditandai dengan mialgia, anoreksia, malaise, sakit kepala dn demam ringan. Setelah itu timbul pembengkakan unilateral/bilateral kelenjar parotis. Gejala ini berkurang setelah 1 minggu dan biasanya menghilang setelah 10 hari. Nemun pada beberapa keadaan infeksi ini terjadi tanpa gejala.
Rubela
Rubela adalah penyakit infeksi yang ringan. Penyebaran penyakit ini dari orang ke orang melalai udara. Penyakit ini menyebabkan ruam maakulo-papular yang sementaara, limfadenopati kelenjar post-auricular dan sub-occiptal, kadang-kadang disertai arthritis dan arthralgia.
Sindrom Rubela Kongenital
Pencegahan sindrom rubella congenital (SRK) merupakan tujuan utama pemberian imunisasi rubella. Rubella adalah penyakit yang mendatangkan malapetaka apabila terjadi pada wal kehamilan, karena dapat menyebabkan kematian janin, kelahiran premature dan cacat bawaan. Kejadian abortus dan lahir mati kejadian yang sering ditemukan. Berat ringannya dampak virus rubella terhadap janin tergantung kapan infeksi ini terjadi. Sampai 85% bayi yang terinfeksi pada kehamilan trimester pertama akan mempunyai gejala setelah lahir. Meskipun infeksi dapat terjadi sepanjang kehamilan, jarang terjadi kelainan bila infeksi terjadi setelah kehamilan di atas 20 minggu.
Infeksi congenital virus rubella dapat mengenai semua system organ bayi. Tuli merupakan gejala paling sering terjadi dan kadang-kadang merupakan manifestasi tunggal infeksi rubella congenital.
Vaksin
1. Vaksin untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella merupakan vaksin kombinasi yang dikenal sebagai vaksin MMR(measles,mumps dan rubella). Terdapat 2 jenis vaksin campak, gondongan, dan rubella di Indonesia yaitu MMR I (MSD) dan Trimovax (Aventis Pasteur). Vaksin MMR II merupakan vaksin virus campak hidup yang dilemahkan dari galur Edmondston, virus gondongan dari galur Jeryl Lyn dan virus rubela adalah Wistar RA 27/3, lyphilised, ditambah 25 mcg neomisin per 0,5ml dosis.
2. Vaksin MMR II merupakan vaksin kering yang mengandung virus hidup harus disimpan pada temperatur 2-8°C atau lebih dingin dan terlindungi dari cahaya. Vaksin harus digunakan dalam waktu 1 jam setelah dicampur dengan pelarutnya, tetap sejuk dan terlindungi dari cahaya, karena dicampur dengan vaksin sangat tidak stabil dan cepat kehilangan potensinya pada temperatur kamar. Pada temperatur 22-25°C ia akan kehilangan potensi 50% dalam 1 jam, pada temperatur >37°C vaksin menjadi tidak aktif setelah 1 jam.
Dosis
Pemberian vaksin MMR dengan dosis tunggal 0,5ml suntikan secara intra-muskular atau subkutan dalam. Imunisasi ini menghasilkan sero-konvensi terhadap tiga virus ini >95% kasus. Diberikan pada umur 12-18 bulan.
Reaksi KIPI
Pada penelitian yang mencakup 6000 anak berusia 1-2 tahun, dilaporkan setelah vaksinasi MMR dapat terjadi malaise, demam atau ruam yang sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dan berlangsung selama 2-3 hari. Dalam masa 6-11 hari setelah imunisasi, dapat terjadi kejang demam pada 0,1% anak, ensefalitis pasca imunisasi <1/1000.000>/= 13 tahun) dan dewasa memerlukan 2 dosis, selang 1-2 bulan
3. Serokonversi didapat pada 97% individu yang divaksinasikan dan sekitar 70% terlindungim apabila terpapar infeksi pada anggota keluarga. Infeksi setelah terpapar apabila telah divaksinasi dapat terjadi pada 1-2% kasus setahun, tetapi infeksi biasanya bersifat ringan.
4. Vaksin dapat diberikan dengan vaksin MMR
5. Vaksin ini di Amerika Serikat dianjurkan diberikan atas usia 1 tahun.
Cara Pemberian
Satgas Imunisasi IDAI merekombinasikan vaksin ini diberikan mulai usia 10 tahun, dosis 0,5 ml secara subkutan, dosis tunggal, mengingat infeksi alamiah masih tinggi sehingga imunisasi pada sekelompok anak tertentu tidak mengubah epidemiologi penyakit ini, seperti peningkatan insiden pada golongan umur yang lebih tua.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
Reaksi simpang jarang terjadi. Reaksi dapat bersifat local (1%), demam (1%), dan ruam papul-vesikel ringan. Pada individu imunokompromais reaksi local jarang terjadi, tetapi reaksi menyeluruh muncul lebih sering (sekitar 12-40% pada pasien leukemia dalam pengobatan rumatan). Setelah penyuntikan vaksin, pada 1% individu imunokompromais dapat timbul varisela.
Indikasi kontra
Vaksin tidak dapat diberikan pada keadaan demam tinggi, hitung limfosit 1200/mm3 atau adanya bukti defisiensi imun selular seperti selama pengobatan induksi penyakit keganasan atau 3 tahun fase radioterapi, pasien yang mendapat pengobatan dosis tinggi dengan kortikosteroid 2 mg/kgBB per hari atau lebih). Vaksin ini juga indikasi kontra bagi pasien yang alergi pada neomisin
D. DEMAM TIFOID
Infeksi terjadi melalui mulut dari makanan dan minuman yang terkontaminsi. Salmonella typhi hanya dijumpai pada manusia yang terinfeksi dan dekeluarkan melalui tinja dan urine. Masa inkubasi 3-60 hari, namun biasanya 7-14 hari. Insiden tertinggi demam tifoid dijumpai pada anak di daerah endemis
Patogenesis
Salmonella typhi masuk bersama makanan/minuman, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus, terutama pleksus Peyeri dan jaringan limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk ke aliran darah menuju organ yang banyak mengandung system retikuloendotelial terutama hati dan limpa. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES, sedangkan kuman yang tidak difagosit kembali masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa dan kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan terinfeksi di usus.
Vaksin
Vaksin demam tifoid parenteral yang terdiri dari seluruh sel dan dinaktivasi dengan berbagi cara, telah digunakan sejak tahun 1896. Uji klinis dengan sample besar telah dilakukan pada tahun 1950-an dengan vaksin dari kuman yang dimatikan dengan pemanasan, menghasilkan proteksi sebesar 56-88% pada populasi risiko tinggi. Vaksin tifus dari kuman hidup yang dilemahkan dan vaksin tifus disuntikkan antigen-VI telah mengurangi reaksi samping
E. Influenza
Pathogenesis
Transmisi virus influenza melalui saluran nafas, virus melekat kemudian menembus sel epitel saluran nafas di trakea dan bronkus. Replikasi virus terjadi dan menyebabkan destruksi sel pejamu, namun tidak akan terjadi viremia. Virus akan terdapat di secret saluran nafas selama 5-10 hari.
Vaksin
Vaksin influenza mengandung virus yang tidak aktif. Terdapat 2 macam vaksin yaitu whole-virus dan split-virus vaccine. Saat ini dikenal 2 macam vaksin influenza yaitu Fluvax-CSL dan Vaxigrip.
Reaksi KIPI
• Reaksi local sakit, eritema dan indurasi pada tempat suntikan , lamanya 1-2 hari. Didapat pada 15-20% resipien yang mendapat vaksinasi
• Gejala sistemik tidak spesifik berupa demam, lemas dan mialgia, yang timbul setelah penyuntikan terutama pada anak yang muda, timbul setelah 6-12 jam pasca vaksinasi dan lamanya 1 atau 2hari

F. HEPATITIS A
Hepatitis A merupakan penyakit yang tersebar hamper ke seluruh bagian dunia, dengan proses penularan melalui tinja-mulut Angka kesalkitannya ditentukan oleh status kesehatan serta sanitasi setempat, serta sering merupakan suatu kejadian luar biasa yang diakibatkan karena adanya kontaminasi makanan atau minuman dengan virus hepatitis A.
Vaksin
Vaksin dibuat dari virus yang dimatikan dari strain HM-175. Saat ini vaksin yang tersedia di Indonesia adalah 4,5Harvrix, Vaqta, dan Avaxim.
G. Pneumokokus
Vaksin
Vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini adalah Pneumo23 buatan Aventis Pasteur. Efek antibody terhadap antigen kapsular pneumokokus telah diketahui sejak permulaan abad ke-20. Respons terhadap vaksin hilang pada immunokompromais dan respons buruk usia kurang dari 2 tahun. Padahal infeksi pneumokokus tinggi, mencapai 80% pada anak <2tahun
Dosis dan cara pemberian : vaksin diberikan dosis tunggal 0,5 ml, secaraintramuskular atau subkutan dalam di daerah deltoid atau paha tengah lateral. Imunisasi ulangan hanya diberikan bila seorang anak mempunyai risiko tinggi tertular pneumokokus setelah 3-5 tahun atau lebih.
Reaksi KIPI
Sebanyak 30-50% resipien akan mengalami eritem atau nyeri ringan pada tempat suntikan, lamanya <48jam. Reaksi lain berupa demam dan mialgia didapat pada <1% anak. Reaksi berat seperti reaksi anafilaksis sangat jarang ditemukan. Demam ringan sering timbul, namun demam tinggi di atas 39C jarang dijumpai. Reaksi KIPI biasanya terjadi setealah dosis kedua.
Kontra indikasi
• Umur <2 tahun, karena respons terhadap vaksin sangat buruk
• Sedang mendapat pengobatan imunosupresan atau iradiasi kelenjar limfe,
• Kehamilan
• Telah mendapat vaksin pneumokokus dalam kurun waktu 3 tahun






JADWAL IMUNISASI WAJIB PADA BAYI
Vaksin Pemberian Interval Umur Keterangan
BCG 1 x - 0-11 bln Min. tidak ada batasan maks
DPT 3 x Min. 4 minggu 2-11 bln -
Polio (OPV) 4x Min. 4 minggu 0-11 bln Lengkapi sebelum umur 1 thn
Campak 1x - 0-11 bln -
Hepatitis B 3x 1 & 6 bln dr suntikan pertama 0-11 bln -

JADWAL IMUNISASI WAJIB PADA BAYI DI RS ATAU RB
UMUR VAKSIN
0 bln Hepatitis B1, BCG, OPV 1
2 bln Hepatitis B2, DPT 1, OPV 2
3 bln DPT 2, OPV 3
4 bln DPT 3, OPV 4
7 bln Hepatitis 3 (bisa diberikan pada saat imunisasi campak pd bulan 9)
9 bln Campak

JADWAL IMUNISASI WAJIB PADA BAYI DI POSYANDU ATAU PUSKESMAS
Umur Vaksin
2 bln BCG, OPV 1, DPT 1
3 bln Hepatitis B1, OPV 2, DPT 2
4 bln Hepatitis B2, OPV3, DPT 3
9 bln Hepatitis B3, OPV 4, Campak





DAFTAR PUSTAKA

Ranuh, I.G.N. Buku Imunissasi Di Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta : Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Indonesia, 2001