Kejadian ini ku alami beberapa tahun lalu, ketika aku belum mengerti benar artinya hidup. Aku terlahir dari sebuah keluarga yang bisa dibilang kurang mampu, ayahku seorang pekerja bangunan yang tidak tetap penghasilannya, jika ada proyek besar di kota, penghasilannyapun cukup untuk 1 bulan. Tapi jika proyek sedang tak ada, keluarga kami hanya mengandalkan hasil kebun yang diwariskan almarhum kakek untuk ayah. Sementara ibu hanya seorang pemungut sisa sayur-sayuran di pasar yang kemudian akan dijual dan sebagian akan dimasak. Tentu makanan itu tak layak makan, tapi kami pun harus memakannya, daripada tak ada makanan sama sekali yang masuk ke perut kami. Dari makanan seperti itu, bagi kami sudah makanan yang istimewa, karena kalau kadang ayah tidak punya penghasilan, sementara sisa sayuran tak ada, kami hanya makan ubi rebus yang didapat dari kebun. Sebelumnya, nama saya Ale, saya tidak mempunyai saudara karena anak tunggal. Kami bertiga hidup rukun dan damai walau dalam keadaaan seperti ini. Keadaan yang mungkin bisa dibilang sangat parah, rumah kami hanya gubug kecil di tengah barang rongsok serta peyot bak akan rubuh. Tapi dengan kekuatan moral spiritual selalu ayah tanamkan padaku, begitu juga ibu sehingga kami menyangga gubug kami dengan sikap yang baik dan agama yang kuat. Ayah juga mengajarkan kepadaku untuk saling memberi kepada siapapun, pernah suatu ketika kami benar-benar tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan, hanya sepotong ubi rebus saja yang ada di meja. Saat itu datang seorang nenek-nenek yang sangat renta, jalannya sempoyongan, wajahnya kusam, dan pakaiannya compang-camping, ayah segera keluar dan memberikan ubi rebus itu. Pada waktu itu umurku masih 10 tahun, aku hanya menangis sejadi-jadinya karena aku sangat kelaparan. Ibu yang nampaknya ikut meneteskan air mata tidak bisa berbuat apa-apa. Seperginya nenek-nenek itu ayah memarahiku habis-habisan, ia berkata kepadaku “Lihat nenek-nenek itu, sungguh engkau bukan anakku jika engkau melarang ayah memberikan ubi itu”. Aku hanya terdiam sambil memeluk ibu, karena takut melihat wajah ayah yang merah. Kemudian setelah ayah memarahiku beliau pergi. Setelah beberapa saat menjelang maghrib ayah pulang, ia tampak sumringah. Digendongnya aku ke atas bahunya dan berkata “lihat Nak, apa yang ayah bawa. Coba kamu pikir dari siapa rejeki ini?coba kalau kita tak memberi kepada nenek-nenek tadi, pasti Alloh tidak akan memberi pula kepada kita”. Akupun berjingkrak-jingkrak kegirangan, ku bawa sebungkus nasi itu kepada ibu. Dan ibu berkata “Alhamdulillah ya Alloh”. Ternyata makanan tadi berasal dari Pak Haji, seperginya ayah setelah memarahiku dan kemudian bertemu Pak Haji di jalan, kemudian ia meminta ayah untuk membantu memperbaiki atapnya, coba saja tadi tak ada nenek-nenek itu dan aku tak menangis pasti kami hanya makan ubi goreng. Sejak saat itu aku percaya jika kita memberi dengan ikhlas maka Alloh akan menambah rejeki kita. Hari itu aku hendak pergi ke sekolah, aku berpamitan kepada ibu dan ayah. Sesampainya di sekolah ada berita yang membuatku girang. Bu Guru mencamtumkan aku untuk mewakili sekolah maju dalam lomba cerdas cermat. Tak sabar rasanya untuk segera pulang dan mengabari ayah dan ibu. Sesampainya di rumah, aku segera menemui ibu. Waktu itu rumah tampak sepi, ternyata ibu sedang tidur. Dalam benakku jarang sekali ibu tidur. Lalu ku urungkan niatku, dan ku tunggu sampai ibu bangun. Sambil menunggu ibu, aku pergi ke ladang untuk mencari kayu dan memanen ubi. Setelah sampai di rumah, ibu segera menghampiriku dan membawakan segelas minum, ibu tampak pucat dan aku tanyakan ibu hanya menjawab mungkin kelelahan saja. Aku pun tak memikirkan lagi, lalu ku katakan kepada ibu berita bahagia tadi. Ibu mencium keningku dan berkata “anak Ibu memang hebat, nanti ibu akan pergi melihatmu”. Senang sekali dalam hatiku pasti aku akan lebih semangat kalau ibu mau menemaniku dalam lomba itu. Saat itu ku Tanya ayah kemana, dan ibu memberitahu bahwa ayah sedang ada proyek di kota, dan akan kembali 2 hari lagi. Malam itupun kami hanya berdua, menyantap ubi yang dibuat masakan pedas yang lain dari biasanya. Ibu mengatakan bahwa ini bentuk syukuran kecil untukku atas berita bahagia tadi. Padahal aku tahu biaya untuk membuat makanan itu sebenarnya bisa untuk makan 2 hari. Lalu sore harinya aku pamit kepada ibu, untuk pergi ke sekolah mengikuti bimbingan dari Ibu Guru untuk persiapan lomba 1 minggu ke depan. Ibu memberikan kecupan di kedua pipiku dan berkata “Buat ayah dan ibu bangga ya Nak”. Aku pun bertambah semangat, dan akan ku buktikan aku mampu menjadi yang terbaik. Sekitar jam 18.00 aku selesai, dan ku kayuh sepeda bututku untuk sampai ke rumah. Belum berkata salam, ayah sudah mengangkatku tinggi. Ternyata ayah pulang lebih awal dari jadwal dan nampaknya ibu sudah menceritakan hal itu. Ayah pulang awal karena proyeknya gagal, tak ada makanan untuk hari ini. Kami pun segera sholat dan selepas itu aku belajar. Walaupun perut ini lapar tapi sudah biasa, aku teruskan belajarku hingga tak terasa tertidur di meja. Malam itu aku bermimpi Ibu menghilang di suatu titik, wajahnya pucat seperti pada waktu itu, aku pun terbangun dan tidak mempedulikan mimpi itu. Keesokan harinya ibu membangunkanku dan menyuruhku segera mandi dan sarapan. Ternyata pagi-pagi buta ibu sudah ke pasar untuk memungut sisa-sisa sayur dan buah sisa para pedagang. Ibu membuat sayur lodeh dan ada satu potong apel yang hampir busuk, tapi ibu memotongnya sebagian yang masih utuh. Ibu berkata “makanlah Nak, mungkin makanan ini bisa menjaga kondisi tubuhmu menjelang lomba”. Segera ku buka makanan yang bisa dibilang jauh dari cukup untuk kami bertiga, namun ayah dan ibu berkata agar aku sendiri yang menyantapnya. Aku pun menolak, ku bagi sayur dan buah itu menjadi 3 bagian, agar kami bisa makan. Wajah ibu nampak berkaca-kaca melihatku membagi-bagi makanan itu. Akhirnya kami semua makan, dan setelah itu aku berangkat ke sekolah. Entah kenapa aku ingin memeluk ibu erat-erat pagi ini sebelum aku berangkat sekolah. Mungkin karena hari ini aku berada di sekolah lebih malam karena hari ini adalah persiapan terakhir, besok adalah hari H-nya. Lelah sekali rasanya, tapi dalam hatiku harus tetap semangat. Akhirnya persiapan itu selesai pukul 21.00 aku beranikan diri untuk pulang, walaupun gelap gulita. Di halaman sekolah tampak Kang Tarno, kakak sepupuku. Dalam hatiku berpikir pasti ayah yang menyuruhnya untuk menjemputku karena aku tak berani pulang sendiri. Langsung ku hampiri Kang Tarno,dan mengajaknya naik sepedaku. Tapi Kang Tarno nampak aneh, matanya terlihat bekas tangisan. Ia memelukku erat, aku pun bingung apa yang terjadi. Ia langsung mengajakku pulang, sampai di jalan aku masih bingung dengan apa yang terjadi dan mencoba bertanya kepada Kang Tarno, tapi ia seperti tak kuasa mengatakannya. Sesampai di ujung jalan aku melihat bendera putih, aku berkata “Innallillahi wa innailahi roji’un semoga keluarga yang ditinggalkan tabah” lalu aku bertanya kepada Kang Tarno, tapi ia tak menjawab. Mungkin karena ia terburu-buru mengayuh sepeda hingga tak mendengar pertanyaanku. Tapi setelah sampai halaman rumah, aku tercengang hebat. Ku lihat banyak tetangga berdatangan serta lampu yang sangat terang sekali menerangi halaman rumahku. Kang Tarno kemudian membisikkan sesuatu padaku “Ibu telah tiada, tabah ya Le”. Aku tak percaya apa yang dikatakan Kang Tarno, karena ia selalu menggodaku setiap harinya agar aku menangis. Lalu aku mendekat ke pintu rumah. Ku lihat sesosok yang tertutup kain, ayah yang berada di sampingnya sedang menahan tangis, wajahnya merah seperti pada waktu marah. Lalu ia melihatku yang berada di ujung pintu kemudian berlari dan memelukku. Aku masih tak mengerti dengan apa yang terjadi, aku Tanya pada ayah “Dimana Ibu yah? Lalu ada apa ini?”. Ayah tak menjawab justru memelukku semakin erat. Ku ulangi lagi pertanyaanku, akhirnya ayah berkata “Ibu Nak…Ibu telah tiada. Antara percaya dan tak percaya segera aku yang masih berseragam sekolah dan menggendong tas kusam berlari menuju sosok yang tertutup kain itu. ku buka dan YA ALLOH !!!! ku tarik nafas panjang, rasanya sudah tak tahan. Ku keluarkan air mata sejadi-jadinya, ku peluk dan ku cium wajah ayu itu sambil berteriak “IBUUUUUUUUUUUUUU”. Tetangga yang menyaksikan aku menangispun tak kuasa menahan air mata, mereka tahu apa yang aku rasakan. Ayah segera menghampiriku dan berkata “ikhlas ya Nak”. Aku pun masih tetap terduduk di samping jasad ibu, aku masih tak percaya dengan kematian ibu yang begitu cepatnya dan tak terduga. Kang Tarno berkata kepadaku penyebab kematian ibu, katanya ia terkena serangan jantung. Aku pun tak peduli apa penyebabnya karena aku tak tahu apa itu serangan jantung. Ayah meminta kepadaku agar aku tidur karena aku esok hari akan mengikuti lomba, dan kalau aku mau, ayah akan bilang kepada Bu Guru agar digantikan oleh yang lain saja tapi aku menolak keras. Aku tetap tak mau mundur, aku sudah berjanji pada ibu agar aku menang. Semalaman aku tak mau sedetikpun meninggalkan jasad ibu, ku temani ia sambil ku bacakan ayat-ayat yang pernah ayah ajarkan padaku. Aku minta pada ayah agar ibu dikuburkan jam 06.00 supaya aku tidak terlambat ke perlombaan itu, karena acaranya dimulai pukul 08.00, ayah pun menyetujuinya. Keesokan harinya tepat pukul 06.00 kami semua mengantarkan ibu ke persinggahan terakhirnya. Sungguh tak kuasa aku melihat ibu, namun ayah berkata bahwa aku harus kuat agar ibu tenang di sana. Ku turuti apa yang ayah katakan, harusnya aku tidak tahu arti kejadian ini tapi entah mengapa aku merasa benar kehilangan seseorang yang aku sayangi. Setelah selesai pemakaman, aku masih terdiam di bawah nisan ibu. Aku berkata-kata sendiri seperti orang gila. Lagaknya aku berkata pada ibu ketika ibu masih hidup. Tepat jam 07.30 aku pulang, dan bersiap untuk pergi ke Balai tempat perlombaan diadakan. Tak lupa aku pamit pada ayah yang sedang duduk bersama pakdhe dan Kang Tarno, aku meminta do’a restu agar aku diberi kelancaran, setelah itu aku pergi berlalu, dalam telingaku terdengar suara pakdhe berkata pada ayahku “kau berhasil mendidik anakmu, Din” aku pun tak menghiraukan kata-kata itu. Sebelum akau pergi ke Balai, aku mampir ke makam ibu untuk meminta restu aku berkata “Ibu, ibu berjanji akan menemani aku ke lomba itu. walaupun itu sudah tiada tapi aku yakin ibu akan menepati janji ibu. Mari bu berangkat” yah itu yang aku ucapkan sebelum aku pergi ke Balai, sesampai di sana aku duduk di kursi tempat aku akan mengalahkan lawan. Ku lihat ibu berdiri tersenyum di dekat jendela sambil melambaikan tangan. Oh..ternyata ibu menepati janji. Aku tak peduli apa itu hanya fatamorgana atau khayalan, tapi aku merasa ibu menemaniku. Setelah 60 menit berjalan, lomba itu usai. Satu kardus kecil yang berisi makanan dan segelas minuman tak ku makan, dan ku bawa pulang untuk ayah dan ibuku, begitu pikirku. Sampai di rumah baru aku ingat bahwa ibu telah tiada, ya sudah…aku dan ayah saja yang memakan. Tapi aku minta pada ayah agar sepotong kue itu jangan dimakan, itu akan ku bawa ke makam ibu nanti siang. Satu minggu dari lomba itu, terdengar suara bel sepeda di depan rumah. Ku bukakan pintu, ternyata pak pos. ia membawa surat untukku. Lalu aku pergi ke ladang sambil membawa surat itu menemui ayah dan berkata “ayah, ini ada surat dari ibu. Mari kita baca” ayah hanya menepuk bahuku dan menyuruhku istighfar. Lalu aku baru ingat, ibu sudah tidak ada. Ya aku harus ingat itu selalu. Lalu kami membaca surat itu, alangkah bahagianya ketika melihat tulisan MUHAMMAD ALE HAFID PEMENANG JUARA 1, ayah mengangkatku seperti biasa ketika kami sedang menerima kabar bahagia dan ayah mencium keningku dan memberi selamat. Akhirnya kami pulang, malam harinya aku tertidur pulas dan bermimpi ibu datang member selamat padaku. Keesokan harinya ku ceritakan pada ayah, ayah pun tersenyum mendengarnya. Ia tahu bahwa istrinya akan ikut bahagia atas keberhasilan putranya. Siang harinya aku pergi ke makam ibu sambil membawa bunga-bunga di depan rumah. Ku ceritakan ini semua pada nisan ibu.
Beberapa tahun kemudian, aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku ke SMA. Tabungan hasil lomba dari sana sini ku buka karena ayah menyetujuinya. Tetapi ayah berkata ia tidak sanggup kalau membiayai sekolah. Aku pun berkata bahwa ayah tidak perlu khawatir, aku akan bersekolah dan bekerja untuk membiayai. Lalu akupun masuk ke salah satu sekolah negri, sambil mendaftar di salah satu bimbingan belajar menjadi tenaga pengajar agar aku dapat membiayai sekolahku. Akhirnya tahun demi tahun, aku bisa membiayai sekolahku sendiri bahkan uang dari sisa aku mengajar ku gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ayah sudah ku minta agar tidak lagi bekerja karena mengingat usianya yang tidak sebugar dulu, tapi ia menolak ia tetap akan menjadi kuli bangunan. Aku pun tidak bisa melarangnya. Sampai suatu hari ku dapati ayah dengan luka di badannya, aku tanyakan kepadanya dia hanya menjawab hanya kerubuhan kayu kecil. Sejak peristiwa itu aku menjadi khawatir dengan keadaan ayah yang semakin tua. Tapi aku cegah juga percuma, ia tetap bersikeras tak mau mendengar omonganku dengan alasan ayah tidak mau merepotkanmu. Waktu itu ada acara di sekolahku, semua walimurid harus datang. Ku ajak ayah untuk berangkat, tapi ia menolaknya dan berkata “rasanya ayah tidak pantas Nak, ayah tak mau membuatmu malu” aku justru menangis mendengar ucapan ayah, aku berkata bahwa tak ada yang memalukan dari ayahku tercinta, lebih memalukan jika aku malu mengajak ayah ke sekolah. Akhirnya ayah yang hanya memakai kaos kusam, celana hitamnya yang sudah tak berbentuk, dan sandal jepit ku gandeng dengan penuh rasa hormat menuju sekolah. Aku tak peduli jika teman-teman mengejekku. Ada seorang yang berkata “ale masak ngajak pengemis sih” aku tak malu dan tak menyalahkan ayah justru aku takut jika ayah sakit hati. Ku katakan pada ayah bahwa ayah salah dengar, tapi ia hanya tersenyum dan mengatakan kepadaku jangan pernah merendahkan orang. Aku tahu bahwa ayahku adalah seorang yang sangat berjiwa besar walaupun dengan pakaian seperti itu tapi aku merasa ia lebih dari orang yang berdasi tapi jiwanya kecil. Aku bangga mengajak ayah ke sekolah, ayah yang dengan ramahnya menyapa setiap guru yang ia temui, hingga ada salah seorang guru berkata kepadaku bahwa senyum ayahku melambangkan ramahnya negri ini. Tak tahu apakah perkataan guruku itu terlalu berlebihan tapi aku bangga mengajaknya ke sekolah.
Ayah yang semakin renta hari demi hari, tetap merangkul alat-alat sederhananya untuk pergi bekerja. Aku pun hanya bisa mendoakan agar ayah selalu sehat. Malam itu aku bermimpi ibu lagi, kali ini aku bermimpi ibu mengajak ayah pergi. Aku berusaha meraihnya namun sia-sia, aku segera terbangun dan menangis, berusaha menerjemahkan mimpi-mimpi itu. Aku takut apa yang aku alami beberapa tahun yang lalu akan terulang pada ayahku. Keesokan harinya rasanya berat untuk meninggalkan ayah, hari itu aku berniat ijin dan ingin menemani ayah bekerja karena aku masih berpikir tentang mimpi semalam, dalam hatiku berbisik “Ibu…tolong jangan ajak ayah pergi”. Ayah justru kebingungan melihatku seperti ini, tapi ia akhirnya menyetujui dan aku pergi menemaninya. Tak tega aku melihat ayah yang sudah tak kuat mengangkat kayu-kayu besar itu. Sepulangnya aku minta lagi pada ayah agar ayah tidak bekerja di sana lagi,, tapi ia tetap menolak. Hingga suatu hari aku mendapat kabar ayahku jatuh tertimpa kayu gelondongan. Kang Tarno yang kembali menyusulku ke sekolah, dalam hatiku berpikir apalagi ini Ya Alloh, jangan Kau ambil ayahku???betapa leganya setelah melihat ayah masih kuat walaupun terbaring lemah. Tak terasa sudah akhir tahun, aku ingin sekali melanjutkan ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan kedokteran agar aku banyak mengetahui arti serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian pada ibuku tersayang. Ayah hanya diam, dan mengisyaratkan bahwa ia tak menyetujuinya. Ku katakan pada ayah bahwa ia tak kan ku minta uang sepersen pun, yang ia butuhkan adalah do’a restu. Akhirnya ayahnya menyanggupinya walaupun hatinya tak percaya. Pekerjaanku setiap hari hanya mencari informasi darimana pun dimana aku bisa mendapatkan beasiswa, akhirnya ku temukan tempat itu. ya, aku diterima sebagai mahasiswa kedokteran, walaupun beasiswanya tidak 100% tapi aku masih punya pekerjaan sebagai pengajar di bimbel. Pada waktu itu aku aku hendak mengajak ayah untuk pindah menge-kos di dekat tempat aku kuliah agar aku tetap bisa merawat ayah. Dalam hatikupun tak menduga ayah akan menyetujuinya. Sebelum ayah ku ajak pindah, rumah ini akan dibongkar dan dijual, ini sesuai pesan ibu dalam mimpiku pada suatu malam. Pada waktu dibongkar, betapa terkejut aku dan ayah melihat sekantung yang berisi perhiasan. Aku tanyakan pada ayah punya siapa ini?aku takut kalau bukan hak kami. Lalu ayah mengingat-ingat, dalam perhiasan itu terdapat nama ayah dan ibu dimana itu adalah mas kawin yang diberikan oleh atasan ayah pada waktu mereka menikah dulu. Ayah mengatakan bahwa dalam mimpi itu ibu menyuruh aku menjualnya untuk biaya kuliah. Pertamanya aku sempat ragu, aku tak tega menjual benda ayah dan ibu ini. Tapi ayah malah sedih ketika aku tak mau menjualnya. Akhirnya aku dan ayah pergi ke pasar untuk menjualnya. Sebelum berangkat menuju kota, aku dan ayah berpamitan ke makam ibu. Karena kami tidak tahu kapan bisa lagi mengunjungi ibu karena jarak antara tempat aku kuliah dan kampong cukup membutuhkan uang yang tidak sedikit. Kami pun berangkat.
Setelah 5 tahun aku berada di kota itu, tak merasa kurang dengan keadaan. Kebutuhan sehari-hari kami pun terpenuhi bahkan cukup untuk mengajak ayah jalan-jalan menikmati kota sambil makan soto kesukaan ayah. Kini saatnya aku wisuda. Dengan bangga aku mengajak ayah datang ke kampus, hari itu aku resmi menyandang status dokter.
Ku buka praktik di tempat kontrakanku, aku merasa senang karena aku mendapat kepuasaan tersendiri dari hasil jerih payah kami selama ini, bukan karena uang yang ku dapat dari hasil praktik tapi rasa untuk membantu sesama seperti yang telah diajarkan ayah. Tak berapa lama uang yang ku dapat sudah terkumpul, ayah menyarankan agar aku membeli rumah itu saja, tapi mendadak aku berpikir tentang ibu. Aku tak mau jauh dari ibu, dan aku berniat membeli rumah di kampong saja. Ayah pun sangat menyetujuinya. Bahagiaku berlipat menjadi dua, selain karena aku telah menebus janjiku pada ibu agar aku menjadi orang sukses, aku juga bertemu dengan wanita sholeh yang kebetulan teman kuliahku juga. Ayah memintaku agar cepat menikah selama ayah masih hidup, aku pun menyanggupinya. Setelah cukup 8 tahun aku berada di kota, ku katakan pada istri dan anakku agar ia mau ku ajak ke kampong. Alhamdulillah istriku adalah pribadi yang sangat taat kepadaku, ia menyetujuinya. Lalu kami sekeluarga pindah ke kampong serta membeli rumah di sana. Ternyata sudah banyak perubahan, banyak rumah-rumah megah di sini tapi sayang daerahku justru masih parah. Tak lupa aku mampir ke makam ibu dan memperkenalkan padanya istri dan anakku. Ayah nampak meneteskan airmata melihat kami begitu tunduk di nisan itu. aku tahu ayah pasti berpikir jika masih ada ibu tentu ia akan lebih bahagia darinya. Tapi itu semua tidak ku sesali, sosok ibu telah terbayarkan pada sosok istriku, ia mempunyai pribadi seperti ibu. Lemah, lembut, penyabar, penyanyang, dan taat padaku. Namun ibu bagiku adalah ibu yang tak tergantikan. Di kampong aku dan istriku membuka praktik bersama, hal yang paling membuatku bahagia adalah melihat ayah masih bisa menikmati bagaimana menjadi orang yang bercukupan. Aku ingin berada di sampingnya untuk terus merawat dan menyayanginya hingga akhir hayatnya. TERIMAKASIH AYAH DAN IBU.. ATAS DO’AMU ALE MENJADI SEPERTI INI.